Anjing yang dibolehkan untuk dimanfaatkan menurut Sunnah Nabi - KONTENISLAM.COM

Breaking

Home Top Ad

Sabtu, 31 Maret 2018

Anjing yang dibolehkan untuk dimanfaatkan menurut Sunnah Nabi



kontenislam.com - Ada yang berkomentar, “Anjing itu ciptaan Allah. Membenci anjing berarti membenci ciptaan Allah. Membenci ciptaan Allah berarti membenci Allah.” Seolah-olah dari ucapan tersebut, ia menilai bahwa kami melarang memelihara anjing, berarti membenci Allah.

Mungkin saja yang berkomentar belum mengenal Islam lebih dekat, sehingga bisa berkomentar seperti itu.

Allah pun menciptakan iblis, namun bukan berarti kita harus mengikuti iblis. Kalau kita benci iblis, bukan berarti kita benci Allah. Karena Allah yang memerintahkan kita sendiri untuk menjauhi dan membencinya. Demikianlah dalam hal anjing.

Anjing memang ciptaan Allah. Namun anjing sendiri dikatakan najis dan haram dipelihara.

Para ulama sepakat bahwa tidak boleh memanfaatkan anjing kecuali untuk maksud tertentu yang ada hajat di dalamnya seperti sebagai anjing buruan dan anjing penjaga serta maksud lainnya yang tidak dilarang oleh Islam.

Ulama Malikiyah berpendapat bahwa terlarang (makruh) memanfaatkan anjing selain untuk menjaga tananaman, hewan ternak atau sebagai anjing buruan. Sebagian ulama Malikiyah ada yang menilai bolehnya memelihara anjing untuk selain maksud tadi. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 25/124)

Mengenai larangan memelihara anjing terdapat dalam hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda,

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ


“Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing untuk menjaga hewan ternak, anjing (pintar) untuk berburu, atau anjing yang disuruh menjaga tanaman, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth” (HR. Muslim no. 1575). Kata Ath Thibiy, ukuran qiroth adalah semisal gunung Uhud (Fathul Bari, 3/149).

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ ، نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ


“Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)

Anjing yang dibolehkan untuk dimanfaatkan adalah untuk tiga maksud yaitu sebagai anjing yang digunakan untuk berburu, anjing yang digunakan untuk menjaga hewan ternak dan anjing yang digunakan untuk menjaga tanaman. Lalu bagaimana selain maksud itu seperti untuk menjaga rumah?

Ibnu Qudamah rahimahullah pernah berkata,



وَإِنْ اقْتَنَاهُ لِحِفْظِ الْبُيُوتِ ، لَمْ يَجُزْ ؛ لِلْخَبَرِ .وَيَحْتَمِلُ الْإِبَاحَةَ .وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى الثَّلَاثَةِ ، فَيُقَاسُ عَلَيْهَا .وَالْأَوَّلُ أَصَحُّ ؛ لِأَنَّ قِيَاسَ غَيْرِ الثَّلَاثَةِ عَلَيْهَا ، يُبِيحُ مَا يَتَنَاوَلُ الْخَبَرُ تَحْرِيمَهُ . قَالَ الْقَاضِي : وَلَيْسَ هُوَ فِي مَعْنَاهَا ، فَقَدْ يَحْتَالُ اللِّصُّ لِإِخْرَاجِهِ بِشَيْءِ يُطْعِمُهُ إيَّاهُ ، ثُمَّ يَسْرِقُ الْمَتَاعَ .


“Tidak boleh untuk maksud itu (anjing digunakan untuk menjaga rumah dari pencurian) menurut pendapat yang kuat berdasarkan maksud hadits (tentang larangan memelihara anjing). Dan memang ada pula ulama yang memahami bolehnya, yaitu pendapat ulama Syafi’iyah (bukan pendapat Imam Asy Syafi’i, pen). Karena ulama Syafi’iyah menyatakan anjing dengan maksud menjaga rumah termasuk dalam tiga maksud yang dibolehkan, mereka simpulkan dengan cara qiyas (menganalogikan).

Namun pendapat pertama yang mengatakan tidak boleh, itu yang lebih tepat. Karena selain tiga tujuan tadi, tetap dilarang.

Al Qodhi mengatakan, “Hadits tersebut tidak mengandung makna bolehnya memelihara anjing untuk tujuan menjaga rumah. Si pencuri bisa saja membuat trik licik dengan memberi umpan berupa makanan pada anjing tersebut, lalu setelah itu pencuri tadi mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah”. (Al Mughni, 4/324)

Walaupun sebagian ulama membolehkan memanfaatkan anjing untuk menjaga rumah, namun itu adalah pendapat yang lemah yang menyelisihi hadits yang telah dikemukakan di atas.

Sumber : https://rumaysho.com/1717-hukum-memelihara-anjing.html

Wahai saudaraku, sungguh, dalam setiap harinya catatan amal keburukan kita semakin bertambah akibat dosa-dosa yang kita lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja.

Jangan lagi dikurangi amal kebaikan kita dengan melakukan hal-hal yang sudah jelas dilarang dalam Islam.

Islam bukan agama perasaan, tapi agama ilmu (dalil). Bila seorang muslim berdiri di atas perasaan untuk menghukumi sesuatu, maka jadilah kita seorang muslim yang "membenarkan dan membeci karena perasaan.  Beramal karena sesuai perasaan, pro kepada sesuatu meskipun salah karena perasaan. Cinta terhadap sesama jenis karena perasaan. Tidak menghukumi zina karena pelakunya suka sama suka (perasaan lagi). Mengucapkan selamat Natal karena perasaannya takut dikatakan "intoleran". Termasuk...kasian melihat anjing karena tidak ada yang mengurusnya, lalu dijadikan hewan peliharaan.

Apa tidak ada hewan yang lain? Apa tidak ada lagi anak yatim yang perlu disantuni? Apa tidak ada lagi fakir miskin untuk diberikan makan?

Maha Suci Allah atas prasangka dan perbuatan hambaNya.

Mari kita terus belajar, kemudian memahaminya, kemudian mengamalkannya.

Semoga Allah memberikan kita hidayah termasuk wanita yang lagi viral karena "kasian dengan anjing" (perasaan).

#Catatan: Kaki Wanita termasuk aurat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar