Simak Kisah Hijrah Teuku Wisnu - KONTENISLAM.COM

Breaking

Home Top Ad

Senin, 05 Maret 2018

Simak Kisah Hijrah Teuku Wisnu




kontenislam.com - Teuku Wisnu artis kondangan berdarah Aceh ini sejak beberapa tahun terakhir memutuskan untuk berhijrah. Kesungguhannya dalam mendalami agama tampak dari penampilan, kesibukannya ke pengajian dan kesehariannya.

Namun siapa sangka, sebagai aktor yang berada di puncak kenamaan dan bergelimang uang, Teuku Wisnu merasa hampa dan tidak bahagia. Kebahagiaan pun kala itu hanya dapat dinilai dari nominal uang.

“Saya dulu berfikiran seperti itu, kalau saya mau bahagia, ya saya harus banyak uang. Saya harus nyari uang, baru saya akan bahagia,” katanya.

Semua itu ia ceritakan dalam acara pengajian dengan tema “Memohon Hidayah dan Istiqomah dalam Hijrah” yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Imam Syuhodo, Wonorejo, Pulokarto pada Sabtu malam (03/03/2018).

“Satu sisi pula, saya mulai merasa bosan dan tidak mendapat kebahagian,” ungkap Teuku Wisnu.

Kondisi yang demikian membuatnya tidak tenang. Suatu ketika, Teuku Wisnu pun memutuskan untuk jalan-jalan tanpa tujuan untuk berfikir dan intropeki atas semua yang ia kerjakan.

Saat itulah muncul bayangan kehidupan para dai, ustadz, ulama dan orang-orang yang dekat dengan agama. Ia melihat, mereka selalu tenang, mudah tersenyum, tampak bahagia walau pendapatan tidak seberapa.

“Dari situ saya intropeksi dan mulai pada saat itu ada bayangan kalau saya dekat agama mungkin saya akan bahagia,” katanya.

Teuku Wisnu lantas mulai mencari-cari majelis pengajian. Semua pengajian seputar keislaman ia ikuti. Namun semua itu tidak langsung mengubah kehidupannya seperti sekarang ini. Sesekali rasa futur mendatanginya. Tetapi saat bersamaan banyak orang-orang yang terus menyemangatinya.

“Tapi habis semangat itu, ada rasa lemas juga seperti ini. Mencari ilmu dan lain-lain, dan itu adalah faktornya adalah karena teman saya yang mempengaruhi saya untuk kembali seperti dulu,” terangnya.

Bagi Teuku Wisnu dorongan utamanya untuk mendalami agama ialah ketika ia mengingat kematian. Terlebih semua kehidupan akan dipertanggungjawabkan dan tidak ada yang tahu kapan ajal akan datang.

“Nah di saat itulah, saya teringat mati. Karena banyak dari teman saya yang masih sangat muda itu meninggal. Pertanyaannya siap nggak? Kita nggak tahu kan itu?” Ungkapnya.

Karena, lanjutnya, kalau ingat mati, seakan-akan selalu ingat Allah, selalu semangat baca Al-Quran. “Apalagi kalau waktu naik pesawat, itu yang saya rasa saya itu seperti dekat sekali dengan kematian,” terangnya.sumber:kiblat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar