Fadli Zon: Jokowi Jangan Sampai Dikenang dengan Hancurnya Demokrasi - Konten Islam

Fadli Zon: Jokowi Jangan Sampai Dikenang dengan Hancurnya Demokrasi

Fadli Zon: Jokowi Jangan Sampai Dikenang dengan Hancurnya Demokrasi

KONTENISLAM.COM - Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon mengkritisi kemunduran demokrasi di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan ini merujuk sejumlah hasil riset yang menggambarkan setidaknya ada empat indikator utama kemunduran demokrasi di era Jokowi.

Fadli menyebut empat indikator tersebut yaitu melemahnya kebebasan berpendapat dan berekspresi, mundurnya kebebasan akademik, meningkatnya aksi kekerasan oleh aparat, serta tersanderanya aktivitas serikat buruh.

Dia menyuguhkan data dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sejak Januari hingga Oktober 2019. Dari data itu, tercatat ada lebih dari 6 ribu orang menjadi korban pelanggaran terhadap kebebasan berpendapat di muka umum.

"Dari jumlah itu, 51 di antaranya bahkan meninggal, dan 324 orang di antaranya masuk kategori anak. Dari sisi pelaku, menurut YLBHI, mayoritas pelakunya adalah aparat. Kepolisian menjadi pelaku tertinggi dengan persentase 69 persen, disusul TNI sebesar 7 persen, serta ormas sebesar 5 persen," kata Fadli, dalam keterangannya, Kamis, 21 November 2019.

Fadli pun memakai data Lokataru terkait mundurnya kebebasan bidang akademik. Kata dia, ada 57 kasus pembatasan kebebasan akademi seperti antara lain pelarangan dan pembubaran diskusi, serta intimidasi dosen serta mahasiswa.

"Kampus yang seharusnya menjadi cagar alam kebebasan akademik, kini justru kian mirip lembaga sensor dan sekadar menjadi kepanjangan tangan kepentingan rezim," tutur Anggota Komisi I DPR itu.

Kemudian, menyangkut persoalan buruh, ia menyinggung terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015. Menurutnya, aturan ini bukan hanya menyuburkan praktik outsourcing dan kontrak, tapi juga mempersulit kaum buruh mendapatkan status sebagai pekerja tetap.

"Akibatnya bisa kita lihat, meski jumlah tenaga kerja dan perusahaan terus bertambah, namun jumlah serikat buruh dan jumlah buruh yang tergabung dalam serikat justru kian menurun," tuturnya.

Dia menyebut data Kementerian Tenaga Kerja, jumlah perusahaan di Indonesia ada sekitar 230 ribu perusahaan. Namun, perusahaan yang memiliki serikat pekerja justru turun drastis. Dari sebelumnya 14 ribu perusahaan, kini tinggal 7 ribu perusahaan.

Di sisi lain, jumlah buruh yang masuk serikat pekerja juga terus mengalami penurunan. Pada awal Reformasi, jumlah buruh yang masuk serikat pekerja ada sembilan juta orang.

"Sekarang, jumlahnya tinggal 2,7 juta saja. Ini tentu saja bukan situasi yang menguntungkan kaum buruh," ujarnya.

Sementara, Fadli menyoroti kebebasan sipil yang memprihatinkan dengan menyertakan hasil Lembaga Survei Indonesia (LSI) terbaru pada awal November 2019. Dari survei itu, diketahui ada ketakutan masyarakat karena dipicu kian maraknya penangkapan semena-mena oleh aparat hukum. 

"Menurut LSI, ada 43 persen responden yang merasa masyarakat saat ini semakin takut berbicara politik. Jumlah ini telah meningkat lebih dari 100 persen dibanding hasil survei tahun 2014," jelasnya.

Kemudian, kondisi kemunduran demokrasi ini dinilai sangat kontras dengan Nawacita yang digaungkan Presiden Jokowi. Ia mengingatkan Nawacita yang dijanjikan sejak 2014 tak terealisasi.

Fadli menyebut ada poin kedua Nawacita yang menyinggung pemerintah tak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.

"Tentu kita tak ingin kehidupan demokrasi terus menurun dan memburuk. Presiden harus memperhatikan isu ini. Jangan sampai di akhir periode keduanya kelak, dia dikenang sebagai memori buruk oleh warganya. Jangan sampai legacy yang ditinggalkan adalah kemunduran dan hancurnya demokrasi di Indonesia," kata Fadli. [viva news]

Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: Kabar Politik | Flow Twitter Kami: @KabarTerkini8

Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel