Quo Vadis Jokowi - Konten Islam

Quo Vadis Jokowi

Quo Vadis Jokowi

 Oleh: Refrinal*

KONTENISLAM.COM - SECARA terbuka saya sangat menyesalkan keputusan Jokowi dalam mengangkat tim ahli, dan dengan tulisan ini saya mencoba mengingatkan beliau tentang kekeliruan fatal yang beliau lakukan atas keputusan tersebut walaupun hal itu merupakan hak beliau secara penuh sebagai seorang Presiden.

Saya melihat bahwa Jokowi mengalami disorientasi dan over-espektasi atas lulusan luar negeri, hingga hampir seluruhnya staf khusus tersebut adalah lulusan luar negeri, bahkan jika dilihat dari latar belakang (baca: track record) hampir seluruhnya seluruhnya merupakan CEO dari perusahaan start up yang tidak berkenaan dengan permasalahan mendasar yang dihadapi negara ini.

Pengumuman ini merupakan pukulan telak bagi kualitas pendidikan dalam negeri, dan seakan memberitahukan pada khalayak bahwa di mata Presiden kualitas lulusan dalam negeri itu rendah tak sebaik lulusan luar negeri, padahal berbagai fakta menyatakan sebaliknya.

Berbagai catatan dan pengalaman menyatakan dengan sahih bahwa kualitas pendidikan di Indonsia jauh lebih baik dari luar negeri, sangat banyak lulusan Universitas Indonesia yang ketika mengambil master ataupun doktor di luar negeri lulus dengan cumlaude, summa cumlaude bahkan magna cumlaude, namun belum tentu mereka dapatkan jika menempuh pendidikan di dalam negeri, karena secara kurikulum kualitas pendidikan universitas di Indonesia memang jauh lebih baik.

Jokowi mungkin tidak paham bahwa seluruh staf khususnya itu adalah alumni universitas swasta di luar negeri dimana untuk bisa kuliah disana tidak dibutuhkan kecerdasan dan seleksi ketat untuk jenjang post graduate, karena syaratnya adalah kemampuan finansial, artinya jika punya uang yang cukup maka bisa kuliah di kampus-kampus yang disebutkan tersebut.

Seharusnya Jokowi memahami tentang bisnis proses pendidikan dimana titik kritis dari pendidikan universitas itu adalah dimana seseorang menempuh pendidikan sarjananya dan bukan pascasarjananya, dan saya rasa disinilah letak kekeliruan beliau, yang kemudian saya kategorikan sebagai sebuah mispersepsi dan disorientasi sekaligus.

Di Indonesia untuk masuk kampus-kampus terbaik jutaan mahasiswa berjuang melalui serangkaian proses yang sangat ketat dan melalui persaingan yang tidak mudah untuk bisa masuk perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Pajajaran, Universitas Gajah Mada, Universitas Airlangga dan seterusnya.

Presiden sepertinya terpukau dengan jabatan-jabatan CEO staf khususnya itu, namun jika itu patokannya maka di negara ini sangat mudah menjadi CEO, cukup dirikan perusahaan dan langsung jadi CEO, tak butuh pengalaman dan kompetensi, cukup punya uang untuk menbayar notaris, mengurus izin-izin yang dibutuhkan.

Tentunya sangat berbeda ketika staf khusus tersebut adalah anak-anak muda yang tertempa oleh pengalaman-pengalaman di berbagai lembaga dan perusahaan papan atas negara ini dimana mereka berkontribusi di lembaga dan perusahaan tersebut dan kemudian menjadi CEO.

Maka menurut saya Presiden melakukan sangat banyak kekeliruan dalam hal ini, dan bagi praktisi pendidikan dan lulusan universitas dalam negeri ini merupakan sebuah malapetaka intelektual yang berdampak pada marwah pemerintah yang ternyata mengabaikan kualitas anak muda Indonesia lulusan dalam negeri yang terserak di banyak lembaga dan perusahaan dan mencatatkan prestasi dan keberhasilan-keberhasilan memukau, dimana mereka telah menyelesaikan begitu banyak persoalan rumit dan pelik di lembaga perusahaan itu dengan sangat gemilang, yang belum tentu bisa dilakukan oleh para staf khususnya tetsebut jika bekerja di lembaga dan perusahaan yang sama.

Artinya, saya pesimis bahwa keberadaan staf khusus presiden tersebut akan mampu memberikan masukan-masukan yang cerdas dan implementatif karena secara praktikal mereka belum teruji, sehingga berpotensi memberikan masukan-masukan yang tidak solutif atas berbagai persoalan bangsa ini dan put of the box.

Bahkan Presiden tidak menyadari bahwa masalah paling penting bangsa ini adalah masalah ekonomi, pertanian dan teknologi, dan dunia mengakui kemampuan dan keahlian lulusan Indonesia, yang mendapatkan pengakuan dunia di bidang masing-masing, seperti lulusan Universitas Indonesia, Univesitas Gajah Mada dan Universitas Pajajaran di bidang ekonomi, lulusan Institut Pertanian Bogor di bidang pertanian, lulusan Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Surabaya di bidang teknologi, dimana jika ditelusuri berbagai jejak dan prestasi lulusannya bahkan diakui tidak hanya perusahaan dan lembaga nasional, namun juga lembaga dan perusahaan asing, multinasional dan mereka mendunia dengan berbagai penelitian konkrit dan impelentatif, dan mereka berkali-kali sudah membuktikan bahwa mereka jauh lebih unggul dibandingkan lulusan pascasarjana dari kampus-kampus dimana para staf khusus presiden itu berasal.

Maka melalui tulisan ini saya ingin mengirimkan pesan pada Presiden tentang kegagalan beliau membangun image dan kebanggaan nasional, dan sudah sepatutnya beliau mmeperbaiki pemahaman beliau tentang kualitas pendidikan dan anak muda lulusan dalam negeri, sehingga tidak mengalami disorientasi dan mispersepsi yang menurut saya mendegradasi kebanggaan nasional menjadi apatisme.

Maka jika melihat keseluruhan komposisi tim khusus yang diumumkan dengan sumringah tersebut maka bisa jadi mereka hanya memiliki kelebihan dalam bahasa Inggris, sebuah kemampuan dimana Jokowi dalam berbagai moment menunjukkan kekurangannya. Maka jika tujuannya untuk menutupi kelemahan Presiden dalam hal bahasa Inggris, maka hal ini dapat dipahami, dan satu-satunya alasan yang dapat dijadikan pembenaran.

*) Praktisi riset pemasaran dan strategi.

Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: Kabar Politik | Flow Twitter Kami: @KabarTerkini8

Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel