Cara Menghadirkan Rasa Khusyu’ di Dalam Shalat - Konten Islam -->

Cara Menghadirkan Rasa Khusyu’ di Dalam Shalat

 

KONTENISLAM.COM - Shalat merupakan salah satu amalan yang paling agung. Bahkan ia merupakan tiang yang menopang tegaknya agama Islam. Ia juga merupakan tolak ukur baik tidaknya amalan seseorang. Karena segala sesuatu akan ditimbang terlebih dahulu melalui shalatnya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا

Artinya : “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR Tirmidzi no. 413, ia mengatakan hadits tersebut  hasan.)

Shalat juga merupakan salah satu amal dari amalan-amalan penghapus dosa. Akan tetapi, untuk menjadikan shalat sebagai amalan penghapus dosa, terdapat syarat yang harus dipenuhi. Syarat tersebut adalah menghadirkan sifat khusyu’ di dalam pelaksanaanya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ,

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia melaksanakan shalat dan pikirannya tidak melayang-layang (khusyu’) , maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

Khusyu’ sendiri merupakan salah satu sifat yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman. Hal ini lantaran khusyu’ merupakan salah satu ciri bahwa hati seorang hamba itu baik dan bersih. Tidak tercampur dengan penyakit-penyakit hati dan tidak pula teracuni oleh syahwat dunia. Allah berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al-Mu’minun)

Untuk memperoleh kekhusu’an di dalam shalat, seseorang dapat mengupayakannya dengan beberapa hal sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Mawardi di dalam kitabnya Al-Hawiy Al-Kabir, di antaranya adalah;

Pertama, berhenti berbicara dengan diri sendiri dan memikirkan dunia, yaitu dengan memfokuskan pikiran pada shalat.

Kedua, meletakkan pandangan pada tempat sujud pada saat berdiri mengerjakan shalat, dan meletakkan pandangan pada ujung kukunya ketika ia sedang duduk, baik duduk tasyahud maupun duduk di antara dua sujud.

Ketiga, tidak memakai pakaian yang menyebabkan seseorang, baik dirinya maupun orang lain kehilangan kekhusyuan di dalam shalat. Dan lebih mengutamakan memakai baju berwarna putih sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anha bahwa beliau berkata,

أنَّ النبيَّ -صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ- صَلَّى في خَمِيصَةٍ لَهَا أَعْلَامٌ، فَقالَ: شَغَلَتْنِي أَعْلَامُ هذِه، اذْهَبُوا بهَا إلى أَبِي جَهْمٍ وأْتُونِي بأَنْبِجَانِيَّة

Artinya: “Bahwasannya Nabi Muhammad melaksanakan shalat menggunakan pakaian bercorak. Kemudian beliau bersabda, “Corak dalam pakaian ini telah membuatku lalai (tidak kusyu’). Pergilah kepada Abu Jahm dan tukarkan pakaian ini dengan ambijaniyah (pakaian dari wol yang paling kasar dan paling rendah mutunya)” (HR Bukhari no. 752)

Keempat, mentadaburi makna dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca di dalam shalat, apalagi surat Al-Fathihah. Hal tersebut lantaran di dalam Al-Qur’an terdapat hal-hal yang dapat menggerakan hati menuju kekhusyu’an, seperti indahnya surga, mengerikannya neraka dan dekatnya kematian. Allah berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَـذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّـهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.”

Kelima, merasa rendah dihadapan Allah ketika ruku’. Yaitu dengan menundukkan punggung dan kepala sembari memikirkan kebesaran Allah, karunia-Nya, dan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Dan juga memikirkan betapa lemahnya kita, betapa butuhnya kita kepada-Nya, dan betapa besarnya dosa kita kepada-Nya. Kemudia berdo’a di dalam ruku’ dengan melafadzkan,

اللَّهُمَّ لكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لكَ سَمْعِي، وَبَصَرِي، وَمُخِّي، وَعَظْمِي، وَعَصَبِي

Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku ruku’, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Khusyu’ kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, dan sarafku.” (HR Muslim 771)

Keenam, menghadirkan rasa kedekatan kepada Allah Ta’ala ketika melaksanakan sujud. Karena sujud adalah waktu dikabulkannya do’a, diangkatnya dosa, dan dinaikkannya derajat seseorang.  Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam,

أقربُ ما يكونُ العبدُ من ربِّه و هو ساجدٌ، فأكثروا الدعاءَ

Arinya: “Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah do’a.” (HR Muslim no. 482)

Ketujuh, tenang dan tidak banyak bergerak. Diriwayatkan dari Mujahid, bahwasannya dia berkata, “Ketika Zubair sedang melaksanakan shalat, seolah-olah dia menyerupai pohon.” (HR Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Kedelapan, memperbanyak istighfar, taubat, dan bersunguh-sungguh ketika melaksanakan shalat malam.

Kesembilan, memperbanyak shalat sunnah, karena itu bisa mengantarkan kecintaan kepada Rabb.

Kesepuluh, ikhlas dan jujur kepada Allah Ta’ala.

Wallahu ‘alam

Diterjemahkan dari :

https://mawdoo3.com/

http://www.saaid.net/

sumber: alislamu.com


Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: Berita Indonesia | Flow Twitter Kami: @kontenislam_com

Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close