Ma'ruf Amin: 94% Alat Kesehatan RI Produk Impor, Riset Harus Ditingkatkan - Konten Islam -->

Ma'ruf Amin: 94% Alat Kesehatan RI Produk Impor, Riset Harus Ditingkatkan

Wakil Presiden Maruf Amin 

KONTENISLAM.COM - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan 94% alat kesehatan di Indonesia adalah produk impor. Ma'ruf Amin mendorong peningkatan riset dan inovasi di bidang kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Ma'ruf Amin awalnya memaparkan bahwa pandemi Corona menyadarkan akan pentingnya kemandirian di bidang kesehatan. Hal itu disampaikan Ma'ruf dalam Webinar series MWA UI dengan tema 'COVID-19 dan Ketahanan Kesehatan Indonesia'.

"Pandemi COVID-19 juga menyadarkan kita bahwa kemandirian dalam bidang kesehatan menjadi sangat penting, yang meliputi ketersediaan SDM, obat-obatan, dan alat kesehatan, serta kemampuan riset termasuk surveilangenomik," kata Ma'ruf Amin dalam sambutannya dalam tayangan YouTube Universitas Indonesia, Kamis (25/3/2021).
 
Ma'ruf mengatakan sebaran tenaga kesehatan di Indonesia juga belum merata. Ma'ruf menyebut daerah tertinggal masih kekurangan tenaga medis.

"Laporan Profil Kesehatan tahun 2019 menunjukkan jumlah SDM kesehatan sebanyak 1.182.024 orang, yang terdiri dari 73,13% tenaga kesehatan dan 26,87% tenaga penunjang kesehatan. Namun demikian kita masih menghadapi masalah sebaran tenaga kesehatan khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Laporan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 juga menyebutkan jika 19,7% Puskesmas masih kekurangan dokter, dan 65,6% Puskesmas masih belum memiliki jumlah tenaga preventif dan promotif yang lengkap," jelasnya.

Selain SDM, Ma'ruf juga menekankan pentingnya kemandirian produksi obat dan vaksin esensial. Ma'ruf menyebut hingga saat ini bahan baku obat impor masih mendominasi di RI.

"Kemandirian juga tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan obat dan vaksin esensial yang terjangkau dan berkualitas untuk seluruh penduduk. Upaya mendorong kemandirian produksi obat khususnya obat generik, menjadi sangat mendesak untuk dilakukan. Menurut data Kementerian Perindustrian saat ini terdapat 178 perusahaan farmasi swasta nasional, 24 perusahaan multi-nasional dan 4 BUMN pada tahun 2019. Namun 90% bahan baku obat-obatan masih diimpor dari luar negeri," jelasnya.
 
Sementara itu, alat kesehatan di RI, kata Ma'ruf, sebanyak 94% adalah produk impor. Dia mendorong agar dilakukan peningkatan riset dan inovasi dalam pengadaan alat kesehatan ini.

"Sama seperti yang terjadi dengan obat, sekitar 94% alat kesehatan, alkes yang beredar di Indonesia merupakan produk impor. Sampai saat ini alkes yang diproduksi di dalam negeri masih didominasi oleh produk-produk dasar dengan teknologi sederhana, dengan angka pertumbuhan industri alkes mencapai 12% setiap tahunnya," jelas Ma'ruf.

"Selain itu, perlu dilakukan peningkatan kapasitas lembaga riset termasuk kapasitas surveilan genomik. Untuk itu berbagai lembaga seperti Eijkman, Balitbangkes, Unair, UGM, UNS, LIPI, UIN, ITB, Universitas Tanjungpura, dan Mikrobiologi FKUI telah melakukan surveilan genomik di berbagai provinsi di Indonesia. Saya berharap kemampuan ini dan riset pengembangan alat-alat kesehatan serta obat-obatan terus ditingkatkan karena hal ini sangat vital bagi upaya kita membangun kemandirian kesehatan," tutur dia.

Lebih lanjut, Ma'ruf menekankan penguatan ketahanan dan kemandirian kesehatan dalam negeri akan memberikan dampak positif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu juga meningkatkan peran Indonesia di tingkat regional maupun global.

"Upaya penguatan ketahanan dan kemandirian kesehatan di dalam negeri tidak hanya akan berdampak positif dalam meningkatkan derajat status kesehatan masyarakat Indonesia, namun juga akan meningkatkan peran dan kontribusi kita di tingkat regional maupun global," kata dia.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro mengatakan pandemi Corona membangkitkan minat para peneliti untuk mengembangkan teknologi dan inovasi di bidang kesehatan. Riset itu dilakukan untuk menangani pandemi.

"Harus kita akui, pandemi ini telah mendorong dan membangkitkan minat para peneliti dan inovator untuk terus berkontribusi menghasilkan berbagai terobosan inovasi dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Indonesia," kata Bambang dalam acara yang sama.

Bambang mengatakan dalam Perpres No 38 Tahun 2018 tentang rencana induk riset nasional 2017-2019 dan dijabarkan melalui peraturan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi No 38 Tahun 2018 tentang prioritas riset nasional tahun 2020-2024. Dia menyebut sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas riset.

"Sektor kesehatan merupakan salah satu dari 10 prioritas riset nasional. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah yang senantiasa hadir untuk riset di bidang kesehatan yang saat ini dipimpin oleh Kemensistek/BRIN," jelasnya.
 
Bambang mengatakan Kemenristek/BRIN bertanggungjawab untuk meningkatkan riset. Dia menyebut pemerintah terus meningkatkan riset dan inovasi di bidang kesehatan.

"Kemenristek/BRIN dalam hal ini bertanggungjawab untuk meningkatkan riset pengembangan, pengkajian dan penerapan teknologi inovasi hasil riset dalam rangka meningkatkan kapasitas nasional untuk mencegah, mendeteksi dan merespons secara cepat berbagai penyakit dan atau kajian yang berpotensi menyebabkan kedaruratan masyarakat. Dan juga mendorong kerja sama laboratorium riset dan surveilan dalam sistem laboratorium nasional serta meningkatkan keselamatan dan keamanan hayati laboratorium riset," kata dia.

Dalam mengembangkan riset dan inovasi itu, Bambang mengatakan Kemenristek bekerja sama dengan perguruan tinggi. Salah satunya dengan Universitas Indonesia (UI).

"Untuk merespons pandemi COVID-19 Kemenristek/BRIN bekerja sama dengan UI telah menghasilkan berbagai inovasi diantaranya UI terlibat dalam penyusunan peta jalan vaksin Merah Putih. UI juga menjadi salah satu tim pengembang vaksin Merah Putih, demikian juga penelitian ventilator dan banyak lagi upaya riset pengembangan dan inovasi atas kerja sama Kemenristek/BRIN dan UI," kata dia.
 
Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI, Saleh Husin mengatakan diskusi mengenai ketahanan kesehatan ini nantinya akan dirangkum. Rangkuman diskusi ini akan diserahkan kepada pemerintah dalam mendukung riset dan inovasi di bidang kesehatan.

"Tujuan webinar nanti oleh para pemateri nanti berdiskusi berbagai masalah kesehatan yang dialami bangsa Indonesia dalam menghadapi pandemi ini. Setelah semua selesai ini akan dirangkum oleh FK UI menjadi satu naskah akademik tentu ini menjadi satu policy brief nanti kami serahkan kepada pemerintah sumbangan pemikiran dari pada UI kepada pemerintah," tutur Saleh.

Rektor UI, Ari Kuncoro mengatakan UI senantiasa meningkatkan peran dalam membantu pemerintah pada bidang riset dan teknologi. Riset dan inovasi ini, kata Ari Kuncoro juga membantu pemerintah dalam menangani pandemi Corona.

"Universitas Indonesia merupakan menara air yang selalu mencurahkan ilmu dan memberdayakan masyarakat bagi kemajuan negara. Saat ini kiprah UI dalam bidang kesehatan antara lain menghasilkan karya inovasi untuk mengatasi pandemi COVID-19. Mulai dari aspek formatif diagnostik sampai terapi terapeutik. Semua produk inovasi ini hasil lintas disiplin anta rumpun ilmu kesehatan, sains teknologi, dan sosiohumaniora di Universitas Indonesia," katanya.
 
UI, kata Ari Kuncoro memiliki kewajiban moral dalam sektor pendidikan dan kesehatan. Sehingga akan meningkatkan akses dan kualitas pelayanan masyarakat.

"Universitas Indonesia yang memiliki kewajiban moral untuk perubahan di sektor pendidikan, penelitian, pelayanan maupun industri kesehatan. Sehingga akan memperbaiki akses serta kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia," jelasnya. [detik]


Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: Berita Indonesia | Flow Twitter Kami: @kontenislam_com

Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close