Lonjakan Kasus dan Krisis Oksigen yang Mengancam India - Konten Islam -->

Lonjakan Kasus dan Krisis Oksigen yang Mengancam India

Pemandangan di sekitar Taj Mahal Palace Hotel di Mumbai, India, yang sepi. Biasanya kawasan turis ini selalu padat. Lonjakan kasus Covid-19 di India mengakibatkan sejumlah kawasan memberlakukan jam keluar, bahkan lockdown.  

KONTENISLAM.COM - oleh Indira Rezkisari, Adysha Citra Ramadani, Sapto Andika Candra

Lonjakan kasus Covid-19 di India menjadi perhatian dunia. Pada Ahad (18/4), India melaporkan 261.500 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Kenaikan kasus positif yang sangat signifikan membuat sejumlah provinsi di India melaporkan ketidakmampuan merawat pasien Covid-19. Terutama, ketidakmampuan memberikan bantuan oksigen bagi pasien Covid-19.

Salah satu daerah yang kesulitan oksigen adalah New Delhi. Chief Minister Delhi, Arvind Kejriwal, mengatakan Delhi mengalami kekurangan oksigen yang akut.

"Delhi sangat membutuhkan pasokan normal. Ketimbang meningkatkan suplai, suplai normal kami sudah sangat berkurang. Kuota oksigen Delhi dialihkan untuk negara bagian lain," katanya lewat akun Twitter-nya, dikutip dari Indian Express, Senin (19/4).

Kejriwal mencicit, oksigen sudah menjadi benda darurat di Delhi. Cicitan Kejriwal diberi latar kondisi di beberapa daerah, seperti Maharashtra, Madhya Pradesh, dan Uttar Pradesh yang juga berlomba untuk mencari oksigen.

Ia pun sudah menulis surat ke PM Modi meminta bantuan bagi Delhi. Surat tersebut menyatakan, situasi Covid-19 di Delhi sangat serius. "Terjadi kekurangan tempat tidur dan oksigen. Kami butuh bantuan. Kami juga mengalami kekurangan pasokan oksigen yang ekstrem. Itu seharusnya diberikan ke kami secepatnya."

Kurang dari 10 hari setelah India mengatakan tidak terdapat kekurangan oksigen, bahkan saat rumah sakit di sejumlah daerah yang mengibarkan bendera merah dan menyatakan stok oksigen rendah hingga tingginya kematian pasien Covid-19, perintah pemesanan oksigen keluar dalam 24 jam. Perintah tersebut untuk memastikan tidak ada gangguan dalam silinder oksigen di seluruh daerah, termasuk meminta industri dan distributor melayani rumah sakit di seluruh India.

Perintah tersebut ditandatangani oleh Menteri Dalam Negeri Ajay Bhalla, dilansir dari India Times, keluar beberapa jam setelah PM Modi diberi tahu tentang usaha pusat meningkatkan produksi dan pasokan tabung oksigen. Keluhan kekurangan oksigen tidak hanya disuarakan Delhi. Daerah dengan dampak parah, seperti Maharashtra dan Madhya Pradesh, juga mengeluh kekurangan oksigen. Akibatnya, rumah sakit menolak merawat pasien yang keluarganya tidak mau menandatangani klausul tidak akan menuntut rumah sakit secara hukum bila terjadi kekurangan oksigen.

Sebanyak 17 ribu ton oksigen sudah dialihkan dari negara-negara yang surplus oksigen ke 12 daerah yang paling membutuhkan. Masalahnya, di daerah terpencil, yang juga mengalami kenaikan kasus Covid-19, tapi tidak memiliki tempat penyimpanan oksigen yang besar. Di klinik yang relatif kecil, pasokan oksigen juga terganggu. Karena, klinik tersebut mengandalkan pasokan tabungan oksigen harian.

Saat ini, India sudah mendeteksi lebih dari 2,5 kali lipat kasus positif Covid-19 dibanding saat puncak gelombang pertama pada September. Kenaikan kasus bukan karena kenaikan jumlah pengetesan. Tingkat pengetesan berada pada kisaran angka yang sama seperti September dan Oktober tahun lalu. Tapi, kali ini lebih banyak hasil tes yang keluarnya positif.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa gelombang kedua pandemi Covid-19 di India saat ini didorong oleh varian-varian baru yang lebih menular. Sebagian merupakan varian dari luar negeri dan sebagian lainnya merupakan varian dari India yang telah bermutasi dan menyebar.

"Saya percaya kita menjumpai sebuah mutasi yang lebih kuat. Banyak pasien yang menunjukkan hasil negatif terhadap virus, tetapi secara klinis mereka positif Covid-19, kotak pandora dalam bencana ini terbuka sekarang," ujar Direktur Medis Dharamveer Solanki Hospital Dr Pankaj Solanki, seperti dilansir Telegraph.

Dr Solanki mengatakan, kondisi para pasien di India saat ini memburuk dengan cepat. Ada lebih banyak pasien yang kini mengalami badai sitokin. Selain itu, gejala yang dialami pasien-pasien berusia lebih muda juga menjadi lebih sulit untuk dikelola.

Sisi barat dari negara bagian Maharashtra merupakan wilayah yang mengalami gelombang kedua pandemi Covid-19 terburuk di India. Sekitar 61 persen dari kasus yang ditemukan pada Januari-Maret di area tersebut disebabkan oleh strain B.1.617 atau dikenal sebagai double mutant. Varian ini juga menjadi penyebab lebih dari 70 kasus Covid-19 di Inggris.

Varian B.1.617 membawa dua mutasi spesifik yang menjadi perhatian, yaitu E484Q dan L452R. Ahli virologi meyakini kedua mutasi tersebut lebih menular dan dapat menyebabkan reinfeksi. Mutasi serupa juga menjadi dalang di balik lonjakan kasus Covid-19 di Brasil dan banyak wilayah di Amerika Selatan dalam beberapa bulan ke belakang.

Seperti di banyak negara lain, ahli virologi Dr Shahid Jameel mengatakan kapasitas India untuk melakukan sekuensi terhadap strain baru ini masih terbatas. Ahli lainnya, Dr Ramanan Laxminarayan, menambahkan bahwa India saat ini belum menemukan hubungan antara sekuens-sekuens yang ada dengan epidemiologi dari Covid-19.

"Tanpa hubungan tersebut, kita tak bisa mengatakan varian mana yang paling mengkhawatirkan di lingkup India," ujar Dr Laxminarayan menjelaskan.

Gelombang kedua pandemi Covid-19 di India saat ini tampak dipengaruhi oleh varian baru yang disebut sebagai strain B.1.617. Saat ini, strain B.1.617 juga ditemukan pada 73 kasus Covid-19 di Inggris dan empat kasus di Skotlandia.

Strain B.1.617 turut dikenal sebagai varian double mutant. Strain ini mendapatkan julukan double mutant karena membawa dua mutasi yang berbeda dari virus originalnya, yaitu E484Q dan L452R.

Virus dikatakan mengalami mutasi ketika terjadi perubahan pada genomnya. Genom merupakan serangkaian instruksi genetik yang memuat semua informasi yang dibutuhkan virus untuk berfungsi.

Mutasi merupakan hal yang cukup umum pada sebagian besar virus. Akan tetapi, kombinasi dua mutasi yang teradapat pada strain B.1.617 ini dinilai mengkhawatirkan karena membuat strain B.1.617 menjadi lebih menular dan lebih pandai dalam menghindari antibodi yang terbentuk akibat infeksi sebelumnya atau vaksinasi.

Kemampuan strain B.1.617 untuk menular lebih mudah diyakini berasal dari mutasi E484Q. Sedangkan kemampuannya untuk menghindari dari antibodi dinilai berasal dari mutasi L452R.

"Kami belum tahu apakah varian ini dapat menghindar dari vaskin yang ada sekarang, akan tetapi varian ini memiliki beberapa mutasi mengkhawatirkan," ungkap anggota kelompok ahli Independent Sage Profesor Christina Pagel, seperti dilansir Metro.

Profesor Pagel menyayangkan bahwa saat ini India belum masuk ke dalam daftar merah perjalanan di banyak negara. Padahal, India saat ini sedang mengalami gelombang kedua pandemi Covid-19 dengan jumlah penambahan kasus baru per hari mencapai 200.000 kasus.

Saat ini masih terlalu dini untuk mengetahui kemampuan vaksin Covid19 dalam memberi perlindungan terhadap variasi double mutant. Akan tetapi, dua per tiga ahli meyakini bahwa varian-varian baru virus penyebab Covid-19 yaitu SARS-CoV-2 bisa membuat vaksin menjadi tidak efektif dalam satu tahun. Hal ini diungkapkan melalui sebuah survei yang melibatkan ahli epidemiologi, ahli virologi, dan dokter spesialis penyakit menular.

Kasus India membuat pemerintah Indonesia waspada. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menyampaikan, pemerintah tidak tinggal diam dalam mengantisipasi hal ini. Indonesia, ujar Wiku, telah menerapkan kebijakan berlapis dengan membatasi mobilitas internasonal sesuai dengan Surat Edaran (SE) Satgas nomor 8 tahun 2021. Pembatasan juga dilakukan untuk mobilitas dalam negeri sesuai dengan SE Satgas nomor 12 tahu 2021.

"Pemerintah juga melakukan PPKM Mikro dan peniadaan mudik sesuai SE Satgas nomor 13 tahun 2021. Ini upaya kita dalam pengendalian kasus Covid-19," ujar Wiku, Ahad (18/4).

Dalam penerapannya, Wiku menegaskan, pemerintah melibatkan banyak pihak termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, satgas level daerah, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Pengetatan pengawasan ini juga berkaca pada penyebab lonjakan kasus di India yang diprediksi disebabkan mulai kendornya penerapan protokol kesehatan oleh warganya.

"Tugas Satgas di daerah dan posko level desa menegakkan kembali aturan sesuai keadaan di daerahnya masing-masing," kata Wiku.

Selain itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun memerintahkan seluruh pemerintah daerah untuk memprioritaskan vaksinasi Covid-19 untuk warga lanjut usia (lansia). Cara ini dipercaya mampu mengurangi risiko kematian akibat Covid-19 yang selama ini lebih banyak mengintai lansia.

"Jadi tolong dipastikan dalam sebulan ini prioritas diberikan vaksinasi kepada lansia. Sehingga senior-senior kita ini bisa kita lindungi. Kalau nanti dikunjungi oleh keluarganya mereka sudah relatif imunitasnya lebih baik," jelasnya.

Meski program vaksinasi Covid-19 dikebut, menkes meminta masyarakat terlena dan tidak waspada. Menurutnya, ancaman lonjakan kasus masih nyata. Budi menyampaikan, program vaksinasi dan PPKM level mikro memang terbukti ampuh menekan angka penularan sepanjang Februari-April ini. Namun, menurutnya, keteledoran dengan abai menjalankan protokol kesehatan bisa dengan mudah menaikkan kembali angka kasus harian.

"Jangan sampai program vaksinasi dan PPKM mikro sudah berkalan ini dan sudah bisa menurunkan kasus covid membuat kita menjadi tidak waspada. Membuat kita tidak hati-hati karena lonjakan bisa terjadi lagi dan usaha keras ini jadi sia-sia karena kita kurang waspada," kata Budi.


Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: Berita Indonesia | Flow Twitter Kami: @kontenislam_com

Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close