Partai Da'wah Rakyat Indonesia Saat Indonesia Darurat

Table of Contents

 

KONTENISLAM.COM - Arus Jakarta. Area Pondok Pesantren Al-Husnayain yang berada di wilayah kecamatan Pasar Rebo Ciracas Jakarta Timur kemarin hari Senin, tepatnya tanggal (31/5/2021) sontak ramai dikunjungi oleh para tamu yang datang ke masjid Abu Bakar As Siddiq. Para tamu yang berdatangan dari berbagai daerah. Tidak hanya dari sekitar wilayah Jakarta Timur saja ada dari berbagai daerah termasuk dari luar Jakarta. KH. Kholil Ridwan sebagai tuan rumah menyambutnya dengan senyum sumringah dengan rasa bangga dan dan senang melihat Kedatangan para tamu yang hadir di pesantren Al-husnayain khususnya di Masjid Abu Bakar Siddiq.

Dalam pantauan awak media ArusNews para tamu undangan tersebut untuk menghadiri soft launching pendirian Partai Da'wah Rakyat Indonesia (PDRI).

Acara dimulai tepat pada pukul 10:00-15:30 Wib. Seluruh pengurus Partai Da'wah Rakyat Indonesia (PDRI).  Turut hadir dalam acara tersebut yang terdiri dari Haji Ahmad Kholil Ridwan selaku Ketua Majelis dewan Syuro, Taufik Hidayat selaku sekretaris. Ketua Umum PDRI Farid Ahmad Okbah, Wakil ketua umum Masri Sitanggang, Sekris Jenderal Yusnadi, Bendahara Umum Adang Suharjo.

Dalam keterangannya Masri Sitanggang selaku wakil ketua umum partai dakwah rakyat Indonesia menuturkan" Terbentuknya partai ini diawali dengan pembicaraan diskusi Badan Penyelidik Usaha Persiapan Partai Islam Ideologis (BPU-PPII). Sehingga terbentuklah Partai Da'wah Rakyat Indonesia yang disingkat dengan PDRI. Badan penyelidik usaha persiapan partai islam ideologis yang beralamat Jalan Kramat Raya Nomor 45 Jakarta Pusat. Saya berharap dengan soft launching pendirian partai dakwah rakyat Indonesia ini bisa terus kegiatan dakwah nilai dakwah menggeliat di seluruh Lini kehidupan umat Islam Indonesia khususnya dan bisa menjadi pengingat dan daya kontrol dari kebijakan-kebijakan pemerintah disaat ia tidak Pro kepada umat dan rakyat Indonesia" tutur Masri Sitanggang.

Sementara KH. Cholil Ridwan disaat membacakan Manifesto politik dari Partai Da'wah Rakyat Indonesia (PDRI). Dirinya mengatakan" Sesungguhnya amanah yang melekat pada setiap diri manusia di dunia ini adalah ke mengabdikan diri kepada Allah dalam semua aktivitasnya (Alquran surat az-zariyat:56)

Allah mengingatkan dalam menunaikan amanah Mulia ini manusia akan menghadapi perlawanan yang datangnya dari setan. Syetan berupaya dengan segala cara agar tugas Mulia manusia tidak terlaksanakan atau melenceng dari tujuan nya karena itulah Allah mengingatkan manusia bahwa setan itu adalah musuhmu yang nyata.

Dengan demikian hakekatnya adalah ada pertarungan antara dua kubu yakni kubu pengikut Allah yang disebut dengan (Hizbullah atau yang lebih dikenal saat ini adalah partai Allah) melawan kelompok pengikut setan yang disebut dengan (hizbusyaiton partainya setan). Kelompok pembela dan penegak yang haq dan kelompok pembela kebatilan. Sebagai konsekuensi iman kepada Allah kita menempatkan diri dalam kelompok Hizbullah partai penegak kebenaran ajaran Allah. Partai Allah dapat menunaikan tugas mulia manusia baik secara pribadi orang perorangan, keluarga bermasyarakat maupun dalam berbangsa membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejak partai islam Masyumi membubarkan diri di tahun 1960 umat Islam di gelanggang politik semakin terpinggirkan. Perolehan kursi DPR RI oleh partai-partai Islam dari Pemilu ke Pemilu sesudahnya tidak pernah menyamai perolehan di tahun 1955, sementara total perolehan kursi partai partai islam waktu itu sebesar 43,7%.

Kekalahan partai Islam di setiap Pemilu mau tidak mau berdampak besar terhadap mengecilnya peran umat Islam dalam menentukan pembangunan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ketuhanan "Yang Maha Esa" sebagai pengganti 7 kata "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dalam Piagam Jakarta tidak secara sungguh-sungguh dilaksanakan dijadikan dasar bagi pembangunan ideologi politik ekonomi sosial budaya dan pertahanan keamanan nasional.

Islam dan umat Islam tidak mendapat tempat secara wajar dan proporsional dalam pembangunan bangsa. Sebaliknya gagasan-gagasan yang berseberangan dengan nilai-nilai keislaman justru mendapat tempat. Islam phobia tampak tumbuh dengan subur sehingga menimbulkan berbagai persoalan yang mengarah pada kondisi disharmoni diantara anak bangsa.

Dan umat menjadi sasaran objek politik bukan menjadi subjek yang bisa melindungi dirinya dari aniaya politik bagi kubu yang berseberangan.

Kondisi ekonomi bangsa Indonesia sangat timpang baik dari sisi pendapatan maupun penguasaan aset-aset ekonomi. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih berupa mimpi jauh api dari panggang. Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang sejarah konstitusi seharusnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat ternyata hanya dinikmati sekelompok orang tertentu. Umat Islam meski merupakan Warga mayoritas yang paling bertanggung jawab terhadap lahirnya bangsa Indonesia ini hanya menguasai 12% ekonomi Indonesia itu pun terbatas pada mengelola ekonomi mikro.

Dengan memperhatikan hasil pemilu 2019 di mana perolehan kursi partai Islam di DPR RI hanya sekitar 29,6% turun 4 kursi dari Pemilu 2014 atau berkurang 14,3% dari Pemilu 1955 dapat dibayangkan bahwa nasib umat Islam dan dakwah islamiyah di masa datang akan menghadapi hari-hari yang sulit.

Rendahnya dukungan umat Islam terhadap partai islam serta kenyataan bahwa posisi umat Islam Indonesia di pinggir kan di berbagai bidang kehidupan dapat dijadikan indikator bahwa dakwah islamiyah di negeri ini kurang berhasil atau bahkan mungkin bisa disebut gagal karena itu bisa terjadi karena beberapa sebab antara lain:

1. Pesan dakwah jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan politik Islam. Pembahasan soal-soal muamalah politik jauh Tertinggal dari hal-hal berkaitan dengan ibadah mahdhoh sehingga umat Islam banyak yang tekun mengamalkan ibadah ibadah khusus namun lupa terhadap tugasnya " liyudzhirohu alad dieni kulihi" memenangkan sistem tatanan kehidupan Islam di atas semua sistem tatanan yang ada.

2. Sikap politik mengambang ormas-ormas Islam setiap kali menghadapi Pemilu para pemimpin ormas Islam seperti gamang dalam menentukan sikapnya. Mereka seperti menghindar dari kecenderungan kepada partai islam lebih suka bersikap mengambil jarak yang sama terhadap semua partai-partai baik terhadap yang sekuler maupun yang Islam mereka memberikan membiarkan anggota ormasnya menjadi masa mengambang dan bahkan membiarkan berkecenderungan ke partai sekuler.

Lebih dari itu ada pula pembinaan ormas Islam yang bangga bila kadarnya menjadi anggota dewan dari berbagai partai baik sekuler maupun Islam Ia memang terasa sedikit ambivalen. Di satu sisi ormas Islam didirikan sebagai alat perjuangan izzul Islam Wal Muslimin" mengangkat martabat Kemuliaan Islam dan umat Islam melalui tema sentralnya adalah "Amar ma'ruf dan nahi mungkar". Namun di sisi lain tidak berani mengambil resiko membela partai Islam. Andai saja semua ormas Islam punya komitmen yang sama untuk membesarkan partai islam maka Peta politik di Indonesia sangat mungkin berubah. Kisah sukses Pemilu 1955 akan terulang dan insya Allah lebih dari itu.

3. Pilihan strategi menjadi garam yang memberi rasa tanpa merubah warna atau merubah dari dalam. Strategi ini sejalan dengan slogan almarhum Nurcholis Majid "Islam yes partai islam No" strategi Ini akhirnya lebih mendorong umat Muslim masuk dan membesarkan partai sekuler ketimbang partai Islam itu sendiri. Namun partai partai sekuler bukannya terwarnai mendekat kepada Islam malahan ideologi sekuler semakin kental itu artinya strategi menjadi garam gagal total dan sudah seharusnya di tinjau ulang.

Di Era Reformasi ini Indonesia cenderung menerapakan demokrasi liberal kapitalis. Partai partai sekuler lebih mirip sebuah perusahaan keluarga atau dinasti. Kebijakan partai yang lebih ditentukan oleh pemilik dari pada kecerdasan dan kearifan Para pengurus yang tidak punya saham di partai.

4. Partai-partai Islam yang ada belum mampu menjadi penyalur aspirasi umat Islam Indonesia. Sebagian besar kisaran 57 dari 87% umat Islam belum merasa terwakili dengan partai-partai Islam yang ada sekarang ini dinilai tidak berbeda nyata dengan partai partai sekuler sehingga mereka terdorong untuk lebih memilih partai sekuler tidak lain pihak partai-partai Islam dalam programnya terkesan sebagai saingan politik. Sangat kurang upaya merebut suara 57 dari 87% lagi umat Islam yang memilih partai sekuler memanggil mereka pulang ke rumah sendiri.

5. Bawa perolehan suara partai islam hanya 29,6% itu selain suara lari ke partai sekuler tetapi juga ada jeruk 30% atau yang sering disebut Golput pada pemilu legislatif 2019 yang harus di edukasi agar memilih ke PDRI.

6. Bahwa sebagian partai politik mendekati masyarakat ketika menjelang Pemilu sehingga mereka merasa hanya diperlukan suaranya saja sementara problematika kehidupan mereka jauh dari keadilan dan kemakmuran. Sehingga PDRI bertekad untuk berbenteng di hati umat, bersama dengan umat dan rakyat agar berusaha memberikan pemecahan masalah dan pendampingan menuju keadilan dan kemakmuran yang dicita-citakan oleh bangsa dan negara kita.

7. Kebanyakan partai yang terkena penyakit kapitalisme yang semuanya digantungkan dengan materi sehingga muncul cukong-cukong politik yang menjual belikan jabatan politik atau posisi legislatif dengan menggelontorkan uang dan mani politik sehingga merusak mental banyak orang tidak ubahnya seperti politik dagang sapi.

8. PDRI perlu mempelopori gerakan politik moral agar keimanan dan ketahanan kepribadian tidak dijual atau digadaikan kepada konglomerat atau oligarki yang telah menguasai ekonomi dan bernafsu menguasai politik melalui pasar gelap. Integritas kepribadian yang dedikatif diperlukan sebagai contoh dan keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai kejujuran keadilan kedermawanan kesabaran gotong royong pengorbanan untuk orang lain dan kebersihan jiwa serta kepentingan qolbu untuk membahagiakan orang lain agar senang di dunia dan selamat di akhirat merupakan harapan PDRI.

Fakta-fakta kekalahan terus-menerus di bidang politik dan terpinggirkan nya peran umat Islam di berbagai lapangan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sebab segala akibatnya seperti yang diuraikan di atas itulah yang mendorong para alim ulama cerdik pandai tokoh umat Islam dalam dalam musyawarah nya di tanggal 7 September 2019 untuk membentuk badan penyelidik usaha persiapan partai ideologis (BPU-PPII).

Badan ini bertugas untuk melakukan kajian dan upaya-upaya melahirkan sebuah partai islam ideologis perjalanan BPUPKI salah satu salah satu tahun 8 bulan menyimpulkan melahirkan partai islam ideologi bernama Partai Da'wah Rakyat Indonesia (PDRI). Partai dakwah rakyat Indonesia PDRI ini mengingatkan kita pada Pemerintah Darurat Republik Indonesia 22 Desember 1948 sampai dengan 13 Juli 1949, pimpinan tokoh Islam Syarifudin prawiranegara yang di yang berkedudukan di Bukittinggi pemerintahan darurat Republik Indonesia berjasa luar biasa dalam menyelamatkan Republik Indonesia menyusun Jogja sebagai ibu kota ri dikuasai Belanda serta Soekarno Hatta dan para pemimpin negara ditangkap pada 19 Desember 1948. Dengan adanya pemerintahan darurat ini eksistensi Republik Indonesia masih diakui oleh dunia dan belum dapat dinyatakan bubar Bila Saja pemerintahan darurat ini tidak ada maka Republik Indonesia sudah tamat riwayatnya.

PDRI siap berkoalisi dengan partai apapun yang melakukan hal-hal Amar ma'ruf dan Siapa pula menjadi oposisi bagi partai-partai yang melakukan kemungkaran" Ungkap KH. Cholil Ridwan.

Disaat awak media diberikan kesempatan untuk bertanya kepada kalangan pengurus Partai Da'wah Rakyat Indonesia (PDRI).

Awak media ArusNews menanyakan" Apakah menurut pengurus Partai Da'wah Rakyat Indonesia (PDRI) saat ini Indonesia sudah memasuki darurat. Sehingga PDRI terbentuk bentuk?

KH. Cholil Ridwan menjawab dengan lugas dan tegas" Ya. Saat ini Indonesia dalam kondisi darurat. Disharmoni antar sesama anak bangsa sudah terjadi. Gedung-gedung yang berada di wilayah Jabodetabek 80% lebih sudah dimiliki asing dan aseng, bahkan sudah kasaf mata ratusan ribu para pekerja aseng berdatangan melalui bandara Internasional yang ada di seluruh Indonesia. Jalan Tol dan aset-aset negara sudah mulai dijual oleh asing dan masih banyak nampak jelas bahwa Indonesia darurat.

"Saya menghimbau, meminta kader-kader Da'i, dan kader partai Da'wah Rakyat Indonesia harus menggandeng ummat dan rakyat Indonesia bersatu bangkit. Bahwa Indonesia sudah dalam keadaan Darurat" Geram KH. Cholil Ridwan. Disambut dalam seruan takbir puluhan jamaah yang hadir di Masjid Abu Bakar Ashiddiqie.[arusnews]

Ikuti kami di channel Whatsapp : https://whatsapp.com/channel/0029VaMoaxz2ZjCvmxyaXn3a | 

Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam


Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam

Ikuti Kami Di Goole News : Google News Konten Islam