Mengejutkan! Ini Alasan Luhut Pilih Kerja Sama dengan China dalam Proyek Pemerintah - Konten Islam
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengejutkan! Ini Alasan Luhut Pilih Kerja Sama dengan China dalam Proyek Pemerintah

Ungkap Alasan Kerap Pilih Kerja Sama dengan China, LBP: Mereka Cepat Merespon Mau Kita 

KONTENISLAM.COM - Mengejutkan! Ini alasan Luhut pilih kerja sama dengan China dalam proyek pemerintah.

Bukan rahasia umum lagi jika investor asing yang berinvestasi di Indonesia salah satunya didominasi China.

Hal itu tentu saja menuai pro dan kontra bahkan polemik yang masih mengemuka hingga saat ini.

Untuk itulah, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan mengungkapkan beberapa alasan pemerintah Indonesia banyak menjalin kerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau China.

Luhut bilang, investor China sangat tanggap dan cepat dalam merespons pemerintah Indonesia.

“Jadi kita jangan membully diri sendiri kalau kita kerja sama dengan Tiongkok. Tiongkok yang paling cepat memberikan respons terhadap permintaan kita,” beber Luhut dalam Rapat Koordinasi Nasional dan Anugerah Layanan Investasi 2021 di Jakarta, Rabu 24 November 2021.

Mantan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) itu juga bilang, investor dari Negeri Panda tersebut juga memberikan keleluasaan kepada Indonesia untuk mengatur skema investasi di Tanah Air.

Selain itu, negara dengan penduduk terbanyak di dunia itu juga mengizinkan adanya skema transfer teknologi selama investasi berjalan.

“Tidak ada itu debt yang ditakutkan karena yang kita lakukan B to B (business to business). Mereka membiarkan pegawainya dari Indonesia semua. Memang dilakukan secara bertahap karena kita memang tidak punya SDM-nya,” imbuh Luhut, Rabu 24 November 2021.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), China menjadi investor ketiga terbesar Indonesia tahun ini di bawah Singapura dan Hongkong.

Jumlah investasi China pada periode Januari-September 2021 mencapai 2,3 miliar dolar AS atau 10 persen dari total penanaman modal asing di Indonesia.

Kendati demikian, Luhut mengingatkan bukan hanya China yang dibidik menjadi investor di Tanah Air.

“Pemerintah juga terus membuka peluang kerja sama di berbagai sektor dengan banyak negara, terutama untuk mendukung hilirisasi,” ungkapnya.

Luhut menambahkan, salah satunya adalah rencana kerja sama dengan Inggris untuk produk baterai, katode, hingga prekursor.

“Jadi sekarang jangan berpikir kita hanya bekerja sama dengan China, itu tidak betul. Kita juga kerja dengan negara mana saja,” beber Mantan Menteri ESDM tersebut.

Luhut menjelaskan, pemerintah juga kini giat mendorong kerja sama investasi dengan Uni Emirat Arab (UEA), termasuk di bidang hilirisasi.

Kunjungan Uni Emirat Arab pada November 2021 ini misalnya, sebut Luhut, juga menghasilkan komitmen investasi 44,6 miliar dolar AS (Rp 637 triliun) di berbagai bidang.

Salah satunya, papar Luhut adalah dengan Abu Dhabi yang akan membawa industri alumunium ke Integrated Green Industrial Park di Kalimantan Utara.

Groundbreaking proyek kawasan industri itu bakal diimplementasikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 16 Desember 2021 mendatang.

Luhut mengungkapkan, upaya hilirisasi sumber daya alam telah membuahkan hasil.

Hal tersebut dapat dilihat dari ekspor besi dan baja Indonesia yang mencapai 16,5 miliar dolar AS (Rp 236 triliun) hingga Oktober 2021 lalu.

Mantan Menteri Perhubungan tersebut juga memperkirakan, ekspor besi dan baja bisa mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS (Rp 286 triliun) atau mendekati 21 miliar dolar AS (Rp 300 trilun).

Nilai ekspor tersebut sangat berpengaruh guna memperbaiki neraca transaksi berjalan Indonesia.

Bank Indonesia mencatat, neraca transaksi berjalan pada kuartal ketiga 2029 surplus 4,5 miliar dolar AS atau 1,5 persen terhadap produk, terbesar sedikitnya dalam satu dekade terakhir.

Surplus pada transaksi berjalan mendorong neraca pembayaran mencatatkan surplus mencapai 10,7 miliar dolar AS, setelah defisit pada kuartal kedua 0,4 miliar dolar AS.

Membaiknya neraca transaksi berjalan bisa membantu Indonesia menghadapi risiko global, seperti normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) di 2022 dan 2023. [/terkini]

Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: Berita Indonesia | Flow Twitter Kami: @kontenislam_com

Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam
close