Keluarga Matulessy Pulau Haruku: Klaim Pattimura Ahmad Lussy Itu Hoax! - Konten Islam
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keluarga Matulessy Pulau Haruku: Klaim Pattimura Ahmad Lussy Itu Hoax!

Patung Pattimura 

KONTENISLAM.COM - Klaim bahwa Kapitan Pattimura bernama asli Ahmad Lussy sempat viral dan menjadi trending topic di Twitter.

Padahal selama ini, Kapitan Pattimura dikenal sebagai Thomas Matulessy.

Keluarga keturunan Thomas Matulessy dari Pulau Haruku, Provinsi Maluku, membantah klaim bahwa Pattimura adalah Ahmad Lussy.

"Itu hoax sejarah," kata Thomas Matulessy, Rabu (6/7/2022).

Thomas Matulessy mengaku sebagai keturunan Thomas Matulessy yang hidup di Abad 18-19 dahulu, sosok yang dikenal sebagai Kapitan Pattimura dan tewas di tiang gantungan Belanda, kemudian ditetapkan Indonesia sebagai pahlawan nasional.

"Saya adalah generasi ke-6 dari Thomas Matulessy," kata Thomas, pria kelahiran Hulaliu, Pulau Haruku, tahun 1957, dan sekarang tinggal di Ambon.

Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPN) menghubungkan detikcom dengan keluarga Thomas Matulessy ini.

Thomas sendiri dinamai persis oleh orang tuanya dengan nama asli Kapitan Pattimura agar mengenang nenek moyangnya.

Meski begitu, keluarga Thomas masih belum diakui negara sebagai keluarga pewaris pahlawan nasional Kapitan Pattimura.

Soalnya selama ini, Kapitan Pattimura disimpulkan tidak punya keturunan dan gugur di tangan Belanda pada usia 34 tahun.

Keluarga pewaris Kapitan Pattimura yang diakui negara berasal dari keturunan saudara kandung Kapitan Pattimura.

Kembali ke soal klaim yang menyatakan nama asli Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy, klaim ini disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat.

Ustaz itu juga bilang Kapitan Pattimura beragama Islam, senada dengan klaim sejarawan Profesor Ahmad Mansur Suryanegara dalam buku 'Api Sejarah'.

"Katanya ditulis profesor, tapi profesor kalau tidak bikin penelitiannya itu hoax juga. Saya menganggap itu adalah cerita dongeng yang tidak berdasar. Sejarah itu kan harus berdasar fakta masa lampau yang benar," kata Thomas.

Dia mengatakan, Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy adalah anak dari Corneles dan Petrosina Noya.

"Beragama Kristen Protestan," kata dia.

Pada 2018, keluarga keturunan Matulessy mengadakan pertemuan.

Keluarga marga Lussy juga hadir. Thomas mengaku bertemu dengan keluarga Ahmad Lussy.

"Saya sama-sama duduk dengan ahli waris, ada juga keturunan Ahmad Lussy. Dia tidak punya data apa-apa karena memang tidak ada peran Ahmad Lussy yang bisa diceritakan. Tidak ada yang kenal Ahmad Lussy," kata Thomas.

Catatan Sejarawan

Sejarawan IO Nanulaita dalam buku 'Kapitan Pattimura' menjelaskan catatan arus utama mengenai Thomas Matulessy yang menjadi Pahlawan Nasional itu.

Meski ada perbedaan dengan keterangan Thomas Matulessy dari Hulualiu Pulau Haruku, namun catatan Nanulaita sama-sama tidak membenarkan bahwa Kapitan Pattimura bernama asli Ahmad Lussy dan beragama Islam.

Di buku itu, tertulis bahwa leluhur keluarga Matulessia berasal dari Pulau Seram (sekarang Provinsi Maluku).

Leluhur Matulessia kemudian berpindah ke Haturessi (sekarang Negeri Hulaliu).

Kemudian, seorang moyang Thomas Matulessy berpindah ke Titawaka (sekarang Negeri Itawaka).

Di antara keturunannya ada yang menetap di Itawaka dan ada yang berpindah ke Ulath, ada yang kembali menetap di Hulaliu, dan ada yang berpindah ke Haria.

Keturunan di Haria inilah yang menurunkan ayah dari Thomas Matulessy, yakni Frans Matulessia/Matulessy. Ibu Thomas berasal dari Siri Sori Serani.

Thomas Matulessy punya satu saudara kandung, yakni Johannis Thomas.

Thomas tidak kawin dan tidak berketurunan, sedangkan Johannis menurunkan keluarga Matulessy yang sekarang berdiam di Haria.

Ahli waris yang memegang surat pengangkatan Kapitan Pattimura sebagai pahlawan nasional selepas Indonesia merdeka.

Dituliskan Nanulita, keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Nama Johannis dan Thomas diambil dari Alkitab.

Demikianlah keterangan di buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta, tahun 1985. [detik]

Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: Berita Indonesia | Flow Twitter Kami: @kontenislam_com

Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam