Kisah orang pertama yang menemukan tambang PT Freeport Indonesia, melibatkan suku Dayak untuk melakukan ekspedisi pertamanya

Image

[KONTENISLAM.COM]  Berbicara tentang Tony Wenas maka tidak akan lepas dari perusahaan yang kini ia pimpin, PT Freeport Indonesia. 

Tony Wenas menjabat sebagai direktur utama PT Freeport Indonesia sejak tahun 2018 lalu.

Tony Wenas dipilih menjabat sebagai direktur utama PT Freeport Indonesia kerena kecerdasan serta pengalamannya memimpin sejumlah perusahaan besar di Indonesia.

Sementara itu, PT Freeport Indonesia yang kini dipimpin oleh Tony Wenas merupakan perusahaan tambang terbesar di Indonesia.

Perusahaan yang terletak di wilayah Mimika Papua itu memproduksi emas, tembaga, dan perak.

Berdiri sejak tahun 1967, PT Freeport Indonesia kini menjelma sebagai perusahaan tambang terbesar yang pernah ada di Indonesia.

Namun siapa sangka, meski berlokasi di wilayah Indonesia, PT Freeport ternyata ditemukan oleh warga negara asing.

Lebih tepatnya oleh pria berkebangsaan Belanda bernama Kapten Johan Cartensz yang melakukan ekspedisi di pegunungan Papua.

"Ekspedisi di tengah pegunungan Papua bermula dari catatan seorang pelaut Belanda, Kapten Johan Cartensz," kata pengisi suara kanal YouTube Extertainment, Minggu, 12 November 2023. 

Dalam catatannya, Johan Cartensz pada tanggal 16 Februari 1623 yang menyatakan bahwa ada sejumlah gunung di Papua yang bagian atasnya tertutup oleh Salju.

Saat itu banyak yang tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Cartensz, karena Indonesia sendiri terletak diantara garis katulistiwa.

"Bagaimana mungkin ada salju di dekat katulistiwa," ungkap pengisi suara kanal YouTube tersebut.

Kemudian selang beberapa ratus tahun setelahnya, seorang penjelajah Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz membentuk sebuah tim untuk melakukan ekspedisi besar-besaran di wilayah Papua.

Hal itu ia lakukan untuk membuktikan apa yang telah di tulis oleh Cartensz dalam buku catatannya.

Dan untuk melakukan hal itu, Lorentz dibantu oleh seorang ahli geologi bernama J. W Van Nouhys.

Untuk melancarkan ekspedisinya itu, Lorentz turut mempekerjakan orang-orang Dayak yang pandai menyusuri sungai.

Selain itu, orang Dayak tersebut dijadikan sebagai pengangkut barang-barang mereka.

Hingga pada akhirnya, keinginan Lorentz untuk melihat gunung salju di pedalaman Papua akhirnya terlaksana pada 8 November 1909.

Tim ekspedisi yang dipimpin oleh Lorentz berhasil melihat salju diatas puncak Wilhelmina atau yang sekarang sering disebut puncak Trikora.

Kemudian setelah itu, hampir puluhan tahun setelah Lorentz melihat salju tersebut, seorang ahli geologi Belanda, Jean Jacques Dozy membentuk tim ekspedisi untuk mendaki Curtenz Piramid atau yang sekarang disebut Puncak Jaya.

"Curtenz Piramid merupakan puncak tertinggi di kawasan pegunungan tengah Papua," ungkap pengisi suara kanal YouTube tersebut.

Kemudian setelah berada diatas Puncak Jaya Dozy melihat sebuah gundukan batu hitam yang ia berinama erstberg yang artinya gunung biji.

Namun saat pecahnya perang dunia ke-2, laporan yang disusun oleh Dozy tidak digubris oleh banyak orang.

Hingga pada akhirnya, laporan tersebut sampai ke telinga Forbes Wilson seorang kepala eksporasi Freeport.

Setelah itu, Forbes Wilson merasa penasaran dengan apa yang ditulis oleh Dozy tentang erstberg.

Kemudian ia bertekad melihat sendiri gundukan batu hitam tersebut secara langsung.

Meski sudah berusia 50 tahun, Wilson tetap bertekad untuk mewujudkan keinginannya tersebut.

Hingga pada akhirnya, ia berangkat didampingi oleh sejumlah ahli termasuk dari pihak kepolisian.

Dan sesampainya diatas gunung tersebut Wilson terpesona dengan erstberg yang diceritakan oleh Dozy.

Dan setelah itu, Wilson tidak lupa membawa batu yang ada di erstberg untuk diteliti di Amerika Serikat.

Dan betapa mengejutkan, hasil analisis itu menyatakan bahwa pertambangan di erstberg bisa memberikan keuntungan yang begitu besar. 

Saking besarnya keuntungan yang akan didapatkan, modal awal penambangan di erstberg bisa kembali hanya dalam kurun waktu tiga tahun saja. 

Dan dalam laporan yang ditulis oleh Wilson menyebutkan bahwa disana bukan hanya ada biji saja, akan tetapi ada kekayaan alam lain seperti tembaga, perak dan emas. 

Mendengar hal itu, Freeport sangat tertarik untuk membuka pertambangan di wilayah Papua tesebut.

Hanya saja pada saat itu, jalan Freeport untuk membukan tambang di wilayah Mimika itu tidak mudah.

Karena pada saat itu, Soekarno menolak kerasa terkait kapitalis barat.

Bahkan saat menjabat sebagai Presiden Indonesia Soekarno tak segan menyebut kapitalis barat sebagai agen penjajah dengan gaya baru.

Namun setelah Soekarno lengser, pada tanggal 7 April 1967 Freeport akhirnya mendapatkan kontrak karya pertamanya dengan masa 30 tahun.

Meski sudah mendapatkan izin pada tahun 1967, namun Freeport muali melakukan penambangan pada Maret 1973.

Sumber: HOPS

Ikuti kami di channel Whatsapp : https://whatsapp.com/channel/0029VaMoaxz2ZjCvmxyaXn3a | 

Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam


Download Konten Islam Di PlayStore https://play.google.com/store/apps/details?id=com.cleova.android.kontenislam

Ikuti Kami Di Goole News : Google News Konten Islam

close